
Kali ini tulisanku mengangkat isu-isu tema tentang kehidupan para mahasiswa yang menuntut ilmu di salah satu kota besar seperti Yogyakarta. Aku kira kalu masalah kenakalan dan pergaulan bebas anak-anak muda merupakan suatu hal yang sudah biasa, tidak mengherankan lagi, sudah sangat sering di bahas dan di bicarakan akhir-akhir ini, tapi disini aku kan menmpilkan kenakalan remaja itu dari sudut pandang berbeda. Aku ingin menampilkan fakta-fakta alasan mereka terjerumus dalam lubang hitam surga dunia itu. Karena sering kali kita hanya menjugde mereka, tanpa mau mendengarkan apa alasan mereka melakukannya. Seperti pepatah lama yang mengatakan "Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat", Kesalahan diri sendiri yang besar tidak terlihat, tetapi jika yang melakukan kesalahan orang lain maka sekecil apapun kesalahan tersebut dapat terlihat.
Baik, kalau kita bicara kenakalan anak-anak muda khususnya kalangan mahasiswa maka tidak akan pernah habisnya, misalnya merokok, mabuk-mabukan, judi, main perempuan, sampe yang paling parah nggodong, nyimenk, nyabu dan narkoba. Disini kalau kita menyalahkan mereka jika mereka kayak gitu saya nggak setuju, memang itu kembali dari dirinya masing buat menjaga keimanan mereka, tetapi itu bukan seratus persen kesalahan mereka. Dalam hal ini orang tua juga mempunyai andil sangat besar akibat kejatuhan anaknya tersebut.
Untuk masalah kenakalan remaja, pendidikan, cara mengajar anak, dan keharmonisan keluarga sangat menentukan emosi anak untuk ke masa depannya. Okey, aku tidak memaha sucikan diriku atau munafik, aku juga tidak memungkiri diriku pernah jatuh dalam lubang hitam surga dunia anak-anak muda. Jadi aku disini cuma menulis sesuai pengalamanku dan sepengetahuanku saja sampai sekarang ini aku duduk di bangku kuliah semester 2 akhir, semoga bisa berguna bagi kawan-kawan semua.
Kasus pertama, aku mempunyai teman bernama si A, Si A datang dari luar jawa dari keluarga mampu dan berada. Si A ini di tempat asalnya sangat di kekang pergaulannya oleh orang tua nya. Katakanlah saja kalau bermain dengan teman-teman sebaya jam mainnya di batasi meskipun dia anak laki-laki, jika bermain kemana selalu di awasi di tanya mau kemana, sama siapa aja, ngapain aja, buruan pulang meskipun itu hanya buat nongkrong dengan teman-teman sebaya.
Pengajaran orang tua yang seperti itu sangat tidak baik untuk perkembangan anak, karena orang tua tidak memberikan kebebasan sang anak untuk mencari jati dirinya. Sehingga dalam hati kecil si A memberontak dan malah akan menjadikan rasa ingin tahu yang tinggi dengan apa yang dilarang-larang sama orang tua nya. Maka setelah si A kuliah di Jogja, otomatis akan jauh dari orang tua maka disini dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mencoba hal-hal yang baru yang dahulu dia sama sekali tidak tahu.
Si A merasa bebas dari belenggu orang tua menjadikan si A berlaku sesukanya sesuai kata hatinya tanpa ada batasannya. Mulai dari coba-coba ngerasain rokok, diajakin temen minum air kedamaian di kosan sebelum kemudian meningkat merambah ke dunia gemerlap yang menghabiskan uang jutaan setiap malamnya hanya untuk kepuasan sesaat. Sampai setiap hari-hari nya uang nya hanya di habiskan untuk mabuk-mabukan, pulang pagi dan freesex. Karena keasyikan dengan kenakalan yang baru dikecap bagi dia menumbuhkan efek kecanduan dan kerikatan dengan gegap gempita kesejukan surgawi yang di sajikan oleh kota Jogja. Tidak hayal uang kiriman bulanan selalu habis, akhirnya terpaksa si A berbohong untuk dapet kiriman lagi, setiap hari bangun kesiangan menjadikan malas dan kuliah nggak pernah berangkat alias bolos.
Ada lagi kasus kedua punya si B, dia tinggal di Jogja bersama keluarganya dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jogja. Si B keluarga nya adalah salah satu orang terpandang di Jogja, bapaknya merupakan petinggi kesatuan militer dan otomatis sudah cukup dikenal di Jogja sendiri. Dia laki-laki anak tunggal, meskipun dia anak semata wayang tidak lantas memanjakan si B sehari-harinya. Sejak kecil si B sudah di didik kedisiplinan dengan cara militer, wajar karena bapaknya juga tentara. Kalau bicara masaalah materi si B sudah sangat berkecukupan namun hanya kasih sayang dari orang tua yang dirasakan kurang. Menjadikan si B mencari kasih sayang dari orang-orang yang peduli sama dia yaitu teman-teman nongkrong. Akan tetapi karena pergaulan yang salah, dia berteman dengan orang-orang yang membawa pengaruh buruk.
Mungkin temannya tau jika si B ini pasti banyak duit, lalu temannya memanfaatkan si B untuk terjun dalam obat-obatan terlarang. Awalnya dia ditawarin barang itu gratis, karena sebagai temen tidak mungkin si B menolak kemudian menerima dan mencoba barang haram tersebut. Sampai pada akhirnya si B sudah kecanduan dan tidak bisa lepas dari ketergantungan barang tersebut. Dari awalnya hanya sebagai pemakai saja, namun karena limpahan materi yang dia punya, si B pun memulai menjadi pengedar dan gembong narkoba. Ternyata mungkin saja jika orang tuanya seorang jendral dan dikenal orang banyak, anaknya malah menjadi gembong narkoba. Kenapa tidak mungkin??? It is very likely...
Berbeda lagi dengan kisah si C, Si C anak bungsu dari keluarga entis suatu daerah yang sudah lama tinggal di jawa. Dia asalnya adalah anak yang rajin di sekolah, karena kepintarannya dia sangat disegani oleh teman-temannya, tidak hanya itu dia juga merupakan aktivis gereja. Tidak hanyal, banyak teman-teman yang respect dan senang bergaul dengan dia. Sama dengan kisah-kisah sebelumnya, si C ini terjerumus dalam lubang hitam kota besar seperti jogja ini juga karena rasa penasarannya yang tinggi tentang cerita nebggiyuran dari sang lubang hitam. Sampai tiba saatnya dia kuliah dan mulai nge-kost di Jogja, sehingga mulai dia sedikit demi sedikit mulai mencoba-coba kenikmatan yang ditwarkan sang lubang hitam. Karena semakin hari semakin keenakan, si C pun mulai terbiasa hidup dengan mabuk-mabukan tiap hari, judi dengan sesama komplotan, dan masih sebatas itu saja.
Tak heran lagi kalau di jogja banyak kos-kosan yang bapak kosnya sangat bebas, bahkan kosan itu tidak ada yang menjagai karena mungkin sang empunya tinggal di rumah berbeda atau tinggal di luar kota karena kosan itu hanya untuk investasi saja. Kosan seperti itu sangat mudah di jumpai di jogja dengan harga miring pula, karena sangat bebas nya kosan tersebut maka tidak ada jam malam, penghuni kos bebas memasukan tamu nginep kapanpun baik sesama jenis maupun lawan jenis. Termasuk salah satu penghuni kosan seperti itu adalah si C, sampai pada suatu ketika si C memberanikan diri berburu ayam-ayam kampus (sebutan untuk cewek abg panggilan di jogja) untuk di bawa pulang ke kosannya.
Rasa penasaran yang tinggi dari si C merasakan apa sih rasa nya ML itu, hasrat nya untuk mencoba naik ketika melihat teman-temannya setiap hari masukin cewek gonta-ganti ke kosan. Akhirnya si C pun memberanikan diri membawa pulang cewek ke kosan dan mencoba ML. Pada akhirnya kebiasan seperti itu sudah melekat pada diri si C. Sangat sulit sekali untuk menghilangkan kebiasaan itu walaupun si C sudah mencobanya berkali-kali. Apalagi jika sudah mabuk minuman keras bagi si C rasanya kurang lengkap jika belum melakukanya. Ya itulah relaita nya.
Terakhir aku mau cerita tentang hebatnya pengaruh Game On Line yang sedang marak sekarang ini. Kisah ini berawal dari pengalamanku bekerja di salah satu Game Center yang lumayan besar di kota Jogja. Disana aku menemukan fakta yang sangat mencengangkan, ternyata game on line tersebut sangat ampuh mengubah hidup sesorang. Ini kisah salah satu rekanku disana, anggap saja namanya si D.
Si D telah 5 tahun tinggal di kota jogja, dahulu dia kuliah di Universitas Gajah Mada, kampus negri yang terbesar dan paling di pandang di jogja. Boleh di bilang si D sangat beruntung sekali dapat kuliah di kampus sebesar UGM, karena banyak anak-anak muda yang ingin kuliah disana tetapi tidak kesampaian. Awal kehidupan si D di jogja masih baik-baik saja, rutinitasnya di kampus juga sangat baik. Bahkan IP rata-ratanya tiap semester mencapai 3,-.
Sampai pada si D merasakan titik jenuhnya, dia merasa bosan dengan rutinitasnya. Akhirnya si D mencoba-coba bermain game on line di kamar dan tidak puas hanya bermain sendiri di kamar, si D bermain di warnet maupun game center dekat kosan. Melalui game on line si D mendapatkan kepuasan dan keasyikan tersendiri saat bermain. Game on line, seperti CS, Rn, PB, DOTA, Ayo Dance, Game Facebook dan lain sebagainya menyajikan permainan petualangan pribadi dengan avatarmu di dalam game tersebut selain itu game on line juga di mainkan oleh semua orang di penjuru dunia melalui jaringan internet. Jadi jika bermain game on line tersebut rasanya ingin terus mengumpulkan poin-poin yang ada untuk menaikan tingkatan level kita.
Karena kecanduan game on line tersebut membuat si D lupa waktu bahkan untuk mengurus dirinya sendiri. Setiap hari si D kerjaannya hanya main main dan main game on line, sampai-sampai dia jarang mandi, makan gag teratur, sering begadang sampai larut pagi jadi sering bolos kuliah. Sampai pada akhirnya saat pengumuman akhir semester IPnya anjlok, meskipun demikian si D tidak peduli dan terus asyik dengan game nya.
Tidak cukup sampai disitu, gara-gara game on line juga membuat dia mundur dari bangku kuliah dan berantem dengan orang tuanya. Setelah tau bahwa Si D sudah berhenti kuliah, orang tuanya pun memarahi dia namun hebatnya pengaruh game on line tadi menjadikan si D ini memberontak. Akhirnya orang tua si D sampai tidak mengaku dia anak, karena sikap si D yang tetap menggandrungi game on line tersebut. Sekarang si D setelah berhenti kuliah dia hidup sebatang kara di kejamnya kota jogja, dan bekerja menghidupi dirinya dengan ijazah SMA dan keahlian yang minim.
Jika berbicara tentang dasyatnya hasutan dari sang lubang hitam pada mahasiswa generasi muda penerus bangsa ini sungguh sangat banyak dan memprihatinkan sekali. Maka tak akan ada habisnya jika saya mengupas kenyataan yang ada dari kasus tersebut jadi saya hanya akan mensharing 4 kisah aja sama kawan-kawan semua. Sekian dan Terimakasih.
haha.. *
BalasHapus